07/13/2006

Ingin kembali seperti dulu

medium_26252898736984l.jpgHari ini kulalui tidak seperti biasanya. Tersirat dalam pikiranku, rasa rindu pada masa lalu, ingin aku seperti dulu setiap sore selalu di temani anak kecil yang selalu menghibur diriku canda tawa ku lalui bersamanya kadang akupun merasa jengkel tapi ya begitulah anak-anak bukan dinamakan anak-anak klo tidak banyak tingkah, rasa penyesalan pun muncul kenapa aku tidak bertahan di tempat itu, aku ingin kembali kepada mereka ya karna mereka yang selalu menghibur diriku disaat aku lelah, di saat capek tapi itu tak terasa kalo sudah dekat dengan mereka, lucunya anak-anak itu, apalagi kalo sudah ada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sulit di ungkapkan “Teh Allah ada dimana??” akupun hanya tersenyum dan ku jawab “Allah itu ada dimana-mana semakin kita sering mengingat Allah Allah akan selalu dekat dengan kita”. Ya anak-anak yang bertanya seperti itu sekarang mereka sudah pada besar dan entahlah mereka masih ingat atau tidak dengan ku. Aku ingin kembali seperti dulu walau tidak berkumpul dengan anak-anak yang dulu tapi banyak pula generasi-generasi cilik. Aku ingin  kembali seperti dulu setiap kutemui anak-anak selalu ada doa untuk ku di mulutnya “Teteh Assalamu’alaikum….” Aku balas dengan senyuman “wa’alaikumsalam…..”. duh dapatkah diah kembali ketempat itu. Sekarang sudah tak ada lagi doa di mulut anak-anak kecil itu. Bahkan klopun bertemu mereka hanya menatap diriku saja seperti orang asing sedih sekali…..

 

Hiks…hiks…..”Ya Allah jadikanlah anak-anak itu anak-anak yang sholeh dan sholehah anak-anak yang berbakti pada kedua orang tuanya jadikan mereka generasi penerus untuk menegakkan agama Islam…”aaaminn….

18:15 Posted in Harian Ku | Permalink | Comments (0) | Email this

07/10/2006

Membangun Motivasi Diri, Menuju Sukses Hakiki

Apa sih motivasi itu? Menurut aku sih.. motivasi itu adalah apa yang menggerakan kamu berbuat sesuatu. Sesuatu itu bisa baik , juga buruk. Semua tergantung yang menggerakkan alias kamu sendiri. Kalau menurut Alay Mc Ginnis dalam motivasi itu termuat unsur psikologis, yaitu kompleksitas dari inspirasi dan semangat. Sedang Jalaludin rahmat mengatakan bahwa daya tarik motif itu ibarat mata panah dan emosi adalah busurnya, maka mata panah itu bergerak tegantung emosi yang terjadi dalam manusia itu sendiri.

Terkait dengan hal ini, motivasi dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor yang pertama faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam (emosi)misalnya hasrat diri, rasa suka, rasa benci, energi dan lain-lain. Sedangkan yang kedua faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu. Biasanya faktor ini dipengaruhi oleh lingkungan. Seperti lingkungan keluarga, teman dan sebagainya.

Sebagai umat terbaik yang diciptakan Allah SWT dimuka bumi ini, tentu kita ingin meraih surga yang dijanjikan Allah kepada kita. Hanya adakah motivasi untuk meraih semua itu? Sedang kita berada di alam dunia fana ini, yang penuh dengan tipu daya. sehingga kadang kita begitu sering terpedaya karenanya.

Karena itu kita mesti punya visi, misi, startegi dan aksi/cara hidup untuk bisa menuju sukses hakiki. Apakah itu?
Visi, misi, strategi serta cara hidup kita sebenarnya telah ada semuanya dalam Umul Kitab yaitu Surah Al fatihah. Visi kita adalah Allah, Misi kita adalah Beribadah, strategi kita meraih surga adalah menempuh jalan yang lurus serta aksi/cara hidup kita adalah mencontoh orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dan bukan meniru orang-orang yang dimurkai Allah. Inilah landasan kita meraih surga.

Wahai teman sudahkah termotivasi buat membangun diri, menuju sukses hakiki?

....
Meraih surga yang dijanjikan
Lebih baik dari dunia seisinya..
....
 (sausan)

 

Sumber: http://boemi-islam.com

18:35 Posted in artikel | Permalink | Comments (0) | Email this

06/23/2006

Di Balik Detik Kehidupan

Waktu adalah umur manusia, ia tersusun dari detik demi detik hingga meningkat menjadi menit lalu jam, hari, dan seterusnya. Hasan Al Bashri pernah berkata: "Wahai Bani Adam! Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari.

Ketika hari telah berlalu,maka berlalu pulalah sebahagian dari dirimu"

Diantara sebab terpenting dari suksesnya para pendahulu kita dalam menapaki segala tantangan dan rintangan yang menghadang adalah kedisiplinan mereka mengisi waktu dengan menginterospeksi setiap detik yang berlalu. Lebih-lebih terhadap menit, jam ataupun hari. Maka pantaslah jika mereka (umat Islam saat Rasulullah masih hidup) menyandang gelar "Khoirul Ummah" (sebaik-baik generasi).

Demikian agungnya makna waktu dalam kehidupan manusia. Rosulullah SAW telah bersabda : "Tidaklah akan berpindah Kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya Tentang empat perkara. Tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya, tentang jasadnya, bagaimana ia mempergunakannya tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia menghabiskannya, dan tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya. (Ad Darimi: 538)

Manusia akan mempertanggungjawabkan sekecil apapun persoalannya di dunia ini. Maka sungguh mengherankan, bagaimana jam, hari dan tahun berlalu dengan sia-sia. Ibnu Mas'ud berkata: "Saya sangat membenci sekali, jika melihat seseorang yang leha-leha, tidak mengerjakan amalan untuk dunianya maupun untuk akhiratnya."

Begitulah para salaf ash sholih, mereka selalu mengisi umurnya dengan tekun, baik dengan perkara dien ataupun dunia, tanpa letih dan jemu. Waktu yang terkait dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

"Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Adz. Dzariyat :56).

Ibadah kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan penjagaan terhadap waktu. Jika seorang hamba memahami makna ibadah dan tujuan penciptaan makhluk, maka sudah pasti ia akan memahami pentingnya waktu. Dan jika waktu adalah barang yang berharga bagi orang yang berakal, itu tak lain karena waktu adalah umur manusia, sebuah kehidupan yang dimulai ketika saat kelahiran dan berakhir hingga detik-detik menjelang ajal.


Sumber : www.percikan-iman.com

14:55 Posted in artikel | Permalink | Comments (0) | Email this